Kamu kenal Mulyono ? Nggak kenal ? Wow, doi tuh anak seorang pembantu rumah tangga yang ayahnya meninggal saat dia usia satu bulan. Mulyono tinggal nun jauh di Dusun Ngampel Kurung, Desa Srikaton, Kecamatan Papar, Kabutapen Kediri, Jatim. Kamu nggak tahu prestasi Mulyono ? Yang jelas doi bukan salah satu akademia AFI 3. Mulyono hanya ‘sekadar' berprestasi di tingkat internasional. Tepatnya doi berhasil menggondol medali perunggu dalam ajang Olimpiade Biologi di Brisbane, Australia !
Apakah kamu juga
kenal dengan Ika Rohmatina ? Nggak kenal juga ? Hmm… ia adalah gadis
desa anak seorang petani di Bojonegoro berusia 16 tahun. Prestasinya ?
Yang pasti bukan peserta KDI di TPI ! Ika ‘sekadar' satu dari 10 pelajar
yang mewakili Indonesia dalam APEC Youth Science Festival di Beijing
3-9 Agustus 2004 ini.
Di ajang ini, Ika
yang tercatat sebagai siswa kelas II di SMA 1 Sumberejo itu akan kembali
mempresentasikan karya ilmiyahnya berjudul “Pengaruh Pemberian Biji
Jarak Ricinus communis L terhadap Masa Kehamilan dan Jumlah Anak
Mencit”. Sekadar tahu aja, karya ilmiah ini sudah meraih gelar juara di
ajang Kabupaten hingga tingkat Asia Tenggara !
Kamu pernah dengar
nama Azis Adi Suyono ? Nggak kenal juga ? Jangan kaget, doi emang nggak
masuk Indonesian Idol kok. Siswa kelas 2 SMP Negeri 9 Cilacap yang
beralamat di Desa Jojok, Kelurahan Kota Waru, Kabupaten Cilacap ini
‘sekadar' peraih medali emas di ajang Olimpiade Sains Nasional Bidang
Fisika yang digelar di Balikpapan pada September 2003 lalu.
Nah, kalo Sutha dan
11 akademia AFI 3 lagi dikarantina di Rafles Hills Cibubur untuk
menjadi penghibur, Azis kini sedang mengikuti pemusatan bareng 11 teman
lainnya sebagai tim IJSO (International Junior Science Olimpiade) di
Perumahan Lippo Karawaci Tangerang untuk menjadi ‘ilmuwan cilik'. Oya,
acara hasil kerja bareng Diknas dan LIPI ini akan digelar di Jakarta
Desember mendatang.
Sekali lagi, kamu
kenal nggak dengan Yudistira Virgus ? Yang pasti dan jelas, anak muda
berwajah ganteng dan berkacata minus ini bukanlah peserta acara Variety
Show bertajuk “Lelaki”. Yudistira ‘hanyalah' salah seorang generasi
teknologi nano peraih medali emas pada Olimpiade Fisika di Pohan, Korea
Selatan, Juli silam.
Selain Mulyono, Ika
Rohmatina, Azis Adi Suyono, dan Yudistira Virgus, ternyata negeri ini
masih memiliki remaja generasi teknologi nano seperti Ali Sucipto, Ni
Komang Darmiastini, Budi Christanto, Andika Putra, Ardiansyah, Ihsan
Tria Pramanda dkk.
Ngomong-ngomong,
teknologi nano itu apaan sih ? Hihihi mantengin AFI, Indonesian Idol ama
KDI aja sih ! (jangan ngambek ya kalo tuduhan ini bener). Menurut Prof
Yohanes Surya, “Dalam era ini ada tiga hal yang menjadi primadona
perkembangan teknologi, yakni teknologi hayati (biotechnology) ,
teknologi informasi, dan teknologi nano. Teknologi nano adalah tahapan
paling aktual dari rekayasa manusia atas susunan atom. Kata nano diserap
dari istilah “nanometer” yang berarti sepermiliar meter (10 pangkat
minus 9). Dus, teknologi ini menumpukan perkembangannya pada produksi
mesin-mesin canggih berdimensi sangat kecil.”
Ide nanometer
berkembang dari ceramah Richard Feyman (peraih Hadiah Nobel Fisika) pada
1959. Menurut dia, materi dapat disusun atau diubah dengan memanipulasi
atom-atom pembentuk materi. Dengan kolaborasi bersama teknologi hayati,
ditemukan aplikasi mesin atau robot canggih untuk beragam keperluan,
antara lain menghancurkan kolesterol, memerangi virus/bakteri, dll
(Koran Tempo, 1/8/04). Semoga nggak puyeng dengan penjelasan ini ya ?
Hehehe
Jadi bintang tanpa SMS
Saya tergelitik
juga dengan tulisannya Putu Setia di Koran Tempo 1 Agustus 2004 lalu.
Beliau menuliskan begini dalam artikelnya setelah “iseng-iseng” survey
kecil-kecilan dengan kirim SMS ke ponakannya di Kalimantan : “…saya
kirim sandek (pesan pendek, pengganti kata SMS) kepada ponakan saya,
pelajar kelas II SMU Tanjung Selor di Kalimantan Timur. “Irma, kamu
pernah dengar nama Yudistira Virgus ?” Setelah lama menunggu, sandek
balasan muncul, “Gak Om, siapa ya ?” Saya ulangi lagi dengan nama
Edbert, Andika, Ardiansyah. Jawaban yang datang juga tidak kenali. Lalu
saya tanya bagaimana dengan Tia dan Rindu ? Hanya sebentar menunggu,
jawaban sudah muncul, “Tia itu anak Solo yg menang AFI 2, Rindu anak Bdg
yg kalah.” Belum sempat membalas muncul lagi suara tit…tit dan ada
sandek menyusul. “Om, sumbang pulsa 50 rb ya, mau dukung Sutha anak Bali
di AFI 3.” Gubraks !
Dalam artikel yang
renyah dengan gaya khasnya, Putu Setia seolah protes dan mempertanyakan
kenapa orang cerdas seperti Yudistira dkk nggak dikenal sesama anak SMU
lainnya ? Kenapa kebanggaan seperti ini nggak menyebar di
sekolah-sekolah ?
Putu Setia, atau
siapa pun, termasuk saya sendiri sedih ngeliat teman-teman remaja yang
lebih asyik menggeluti dunia hiburan, dan mendukung mereka di ajang
tersebut. Sementara seorang anak bernama Mulyono yang dapetin medali
perunggu dalam Olimpiade Biologi di Brisbane, jangankan didukung,
dikenal aja nggak !
Padahal, Mulyono
tinggal di desa dengan fasilitas penunjang belajarnya yang sederhana
banget. Kalo belajar malam hari cuma mengandalkan penerangan dari
keremangan lampu teplok. Jarak rumah dan sekolahnya 25
kilometer—sehari-hari ditempuh dengan menumpang angkutan pedesaan.
Sebelum mencapai jalan raya, Mulyono harus mengayuh sepeda pancal sejauh
6 kilometer dari rumah. Tentu saja, sang Ibu, Mujiati mengaku terharu
anaknya bisa jadi jawara di ajang internasional. Karena ia sendiri nggak
tahu apa itu biologi, dan apa itu olimpiade. (Koran Tempo, 1/8/04)
Yudistira, Mulyono,
Ika Rohmatina, Ardiansyah dkk menuju puncak untuk menjadi bintang nggak
perlu sumbangan SMS dari teman-temannya. Selain karena ajang ini nggak
diliput secara khusus oleh media massa, juga karena kepandaian nggak
diukur dari dukungan SMS, tapi dari keenceran otak yang dibangun dari
kerja keras dalam belajar, ulet, semangat, dan juga keprihatinan.
Sobat muda muslim,
maaf, bukannya saya bingung, bukannya saya iri (ini kok jadi gaya Mpok
Minah di Bajaj Bajuri kalo ngomong sama si Emak ! hehehe), saya nulis
begini adalah sebagai bentuk protes kenapa ajang asah otak seperti ini
dikalahkan oleh ajang olah vokal, olah gaya tubuh, dan olah raga ?
Pemberitaannya aja
seringkali nggak proporsional. Mungkin karena ajang asah otak bikin
puyeng yang nonton dan baca kali yee ? Saya sendiri khawatir teman-teman
remaja sudah terjebak dalam gaya hidup yang nyantai, bahkan terkesan
hura-hura dan hedonis banget. Kalo udah begini, apa jadinya generasi
mendatang kalo hanya memproduksi remaja-remaja yang tidak saja lemah
iman, tapi juga lemah ilmu. Bahaya banget tuh !
Yang bahagia dan yang merana
Meski sama-sama
ngetop, bahkan seharusnya anak-anak yang cerdas ini lebih ngetop lagi
ketimbang para remaja yang berlaga di ajang AFI, Indonesian Idol, dan
KDI, karena sudah berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional,
tapi angin “nasib” nggak selalu berpihak kepada mereka. Bahkan untuk
sekadar perhatian sekalipun.
Sebut saja Ni
Komang Darmiastini, peraih medali perunggu pada Olimpiade Biologi
Internasional di Brisbane, Australia, 11-18 Juli lalu, sebelum berangkat
ke Brisbane, pihak sekolahnya, SMA 1 Singaraja, secara resmi sudah
melayangkan surat ke DPRD Buleleng guna meminta bantuan. Permohonan itu
tak mendapat respon positif. “Tidak ada disposisi bantuan. Yang ada
hanya disposisi untuk maklum. Artinya tidak dibantu.” Ujar seorang staf
keuangan DPRD Buleleng kepada Koran Tempo (29/7), sambil memperlihatkan
risalah surat-surat masuk (Koran Tempo, 1/8/04)
Waduh ! Tapi
lihatlah bagaimana Veri yang jawara AFI 1. Doi dieluk-elukan bak
pahlawan oleh masyarakat Langkat, daerah kelahirannya. Disambut meriah.
Bahkan sang Bupati menghadiahkan 4 hektar tanah untuk Veri. Atau Tia
yang jawara AFI 2, ia sampe disambut Walikota Semarang setelah menang di
AFI 2. Sebagai jawara di ajang itu, panitia ngasih Veri dan Tia mobil
keren.
Sobat muda muslim,
sebenarnya perhatian pemerintah terhadap orang-orang cerdas nyaris nggak
ada. Sekadar nostalgia, yuk kita kenalan dengan Prof. Dr. Azhar
Djaloeis, Ketua Badan Pemeriksa Tenaga Nuklir. Berdasarkan catatan Koran
Tempo (1/8/04), tahun 1983, Prof. BJ Habibie meminta peneliti senior di
KFA (Nuclear Riset Center) Juelich, Jerman, itu kembali ke tanah air
guna menjadi staf ahli menteri di bidang nuklir.
Tapi apa lacur,
saat pertama kali pulang ke Indonesia, beliau sempat kecewa. Kenapa?
Karena penghargaan terhadap seorang ilmuwan sangat jauh jika
dibandingkan dengan di Jerman. Padahal ketika diminta “paksa” balik ke
tanah air, di sana beliau sudah punya rumah, kendaraan, dan kehidupan
yang bagus. Bahkan sebagai peneliti senior di KFA dan guru besar beliau
mendapatkan Aufenthaltsberechtigung (hak tinggal tetap).
Di sini, mantan
pengajar Fisika Nuklir, Mekanika Quantum, dan Fisika Modern di
Universitas Bonn, Jerman, ini hanya digaji Rp 6 juta sebulan (gaji pokok
plus tunjangan jabatan). Kasihan banget deh.
Ini sekadar contoh
aja, betapa pemerintah kurang peduli, terhadap mereka yang cerdas.
Bandingkan dengan penghargaan pemerintah atau pihak mana pun di negeri
ini kepada para penghibur, baik di ajang olah vokal, maupun olahraga.
Nggak usah disebutin detil, toh kita sering juga melihat faktanya di
lapangan. Kalo ada atlit yang mengharumkan nama bangsa di ajang
internasional, sambutannya luar biasa. Tapi mereka yang mengharumkan
nama bangsa di ajang internasional lewat kecerdasan otaknya, disambut
seperlunya saja. Mengenaskan banget. Benar-benar sebuah tragedi.
Penghargaan cara Islam
Sobat muda muslim,
bukan rahasia lagi kalo Islam, sangat menghargai orang-orang yang
berilmu. Khalifah Umar pernah menghargai para pengajar di sekolah
setingkat TK dengan gaji 15 dinar sebulan (1 dinar setara dengan 4,25
gram emas). Di jaman Khalifah Harun al-Rasyid, para penulis berbagai
bidang ilmu, akan diberikan emas seberat buku yang ditulisnya. Fantastis
!
Jadi jangan heran
jika Islam di masa kejayaannya memiliki ribuan ilmuwan muslim. Salah
satunya ketika Andalusia, Spanyol, menjadi pusat pemerintahan Islam.
Bahkan Valencia menjadi kota tujuan utama para pelajar Eropa yang ingin
belajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam.
Kamu kenal
Al-Khuwarizmi (kalo orang Eropa menyebutnya algoritma) ? Nggak kenal ?
Nggak apa-apa, beliau ‘hanyalah' seorang ulama sekaligus pakar di bidang
matematika. Buku beliau yang cukup terkenal di bidang matematika adalah
“al-Jabr wa al-Muqabalah” .
Kamu pernah dengar
nama Al-Khazini ? Nggak pernah dengar ? Nggak apa-apa, beliau ‘hanyalah'
seorang ilmuwan Islam yang pakar di bidang fisika dan astronomi. Beliau
menulis sebuah buku tentang mekanika, hidrostatik, dan fisika dengan
judul “Kitab Mizan al-Hikmah”.
Al-Khuwarizmi dan
Al-Khazini adalah dua dari ribuan ilmuwan muslim hasil pembinaan,
kepedulian, serta penghargaan dari Khilafah Islamiyah. Sampe-sampe
George Sarton dalam “Introduction to the History of Science” menulis,
“Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun (813-833 M), perkembangan
ilmu-ilmu baru mencapai puncaknya. Pemerintah mendirikan sebuah sekolah
reguler untuk penerjemahan di kota Baghdad. Sekolah itu dilengkapi
dengan perpustakaan. Salah satu penerjemah yang terkemuka adalah Hunain
ibn Ishaq (809-877 M), seorang filsuf berbakat sekaligus pakar fisika
yang terpelajar.”
Tapi sayang banget,
orang-orang berprestasi dengan keahlian di bidang sains dan teknologi,
kurang pendapat perhatian dan penghargaan yang semestinya di negeri ini.
Di negara maju saat ini, orang-orang cerdas ini sangat dihargai, karena
mereka tahu betul, sangat boleh jadi satu orang berilmu lebih berharga
ketimbang seribu orang bodoh.
Islam pun, sejak
dulu sudah sangat menghargai keahlian orang-orang seperti ini, bahkan
sejak awal menciptakan mereka. Tapi sayangnya, itu terjadi ratusan tahun
lalu saat Islam berkuasa di dunia ini. Jadi, tugas kita saat ini,
mengembalikan kejayaan Islam di muka bumi ini dengan mengkampanyekan
penting dan wajibnya menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Yang
tidak saja akan menciptakan dan menghargai orang-orang cerdas di bidang
sains dan teknologi, tapi sekaligus menghancurkan segala kebatilan yang
ada di dunia ini sambil menyebarkan cahaya Islam. Salam perjuangan dan
kemenangan Islam ! [solihin]


