Kamis, 19 November 2015

ANTARA ILMUWAN DAN PENGHIBUR


Kamu kenal Mulyono ? Nggak kenal ? Wow, doi tuh anak seorang pembantu rumah tangga yang ayahnya meninggal saat dia usia satu bulan. Mulyono tinggal nun jauh di Dusun Ngampel Kurung, Desa Srikaton, Kecamatan Papar, Kabutapen Kediri, Jatim. Kamu nggak tahu prestasi Mulyono ? Yang jelas doi bukan salah satu akademia AFI 3. Mulyono hanya ‘sekadar' berprestasi di tingkat internasional. Tepatnya doi berhasil menggondol medali perunggu dalam ajang Olimpiade Biologi di Brisbane, Australia !
Apakah kamu juga kenal dengan Ika Rohmatina ? Nggak kenal juga ? Hmm… ia adalah gadis desa anak seorang petani di Bojonegoro berusia 16 tahun. Prestasinya ? Yang pasti bukan peserta KDI di TPI ! Ika ‘sekadar' satu dari 10 pelajar yang mewakili Indonesia dalam APEC Youth Science Festival di Beijing 3-9 Agustus 2004 ini.
Di ajang ini, Ika yang tercatat sebagai siswa kelas II di SMA 1 Sumberejo itu akan kembali mempresentasikan karya ilmiyahnya berjudul “Pengaruh Pemberian Biji Jarak Ricinus communis L terhadap Masa Kehamilan dan Jumlah Anak Mencit”. Sekadar tahu aja, karya ilmiah ini sudah meraih gelar juara di ajang Kabupaten hingga tingkat Asia Tenggara !
Kamu pernah dengar nama Azis Adi Suyono ? Nggak kenal juga ? Jangan kaget, doi emang nggak masuk Indonesian Idol kok. Siswa kelas 2 SMP Negeri 9 Cilacap yang beralamat di Desa Jojok, Kelurahan Kota Waru, Kabupaten Cilacap ini ‘sekadar' peraih medali emas di ajang Olimpiade Sains Nasional Bidang Fisika yang digelar di Balikpapan pada September 2003 lalu.
Nah, kalo Sutha dan 11 akademia AFI 3 lagi dikarantina di Rafles Hills Cibubur untuk menjadi penghibur, Azis kini sedang mengikuti pemusatan bareng 11 teman lainnya sebagai tim IJSO (International Junior Science Olimpiade) di Perumahan Lippo Karawaci Tangerang untuk menjadi ‘ilmuwan cilik'. Oya, acara hasil kerja bareng Diknas dan LIPI ini akan digelar di Jakarta Desember mendatang.
Sekali lagi, kamu kenal nggak dengan Yudistira Virgus ? Yang pasti dan jelas, anak muda berwajah ganteng dan berkacata minus ini bukanlah peserta acara Variety Show bertajuk “Lelaki”. Yudistira ‘hanyalah' salah seorang generasi teknologi nano peraih medali emas pada Olimpiade Fisika di Pohan, Korea Selatan, Juli silam.
Selain Mulyono, Ika Rohmatina, Azis Adi Suyono, dan Yudistira Virgus, ternyata negeri ini masih memiliki remaja generasi teknologi nano seperti Ali Sucipto, Ni Komang Darmiastini, Budi Christanto, Andika Putra, Ardiansyah, Ihsan Tria Pramanda dkk.
Ngomong-ngomong, teknologi nano itu apaan sih ? Hihihi mantengin AFI, Indonesian Idol ama KDI aja sih ! (jangan ngambek ya kalo tuduhan ini bener). Menurut Prof Yohanes Surya, “Dalam era ini ada tiga hal yang menjadi primadona perkembangan teknologi, yakni teknologi hayati (biotechnology) , teknologi informasi, dan teknologi nano. Teknologi nano adalah tahapan paling aktual dari rekayasa manusia atas susunan atom. Kata nano diserap dari istilah “nanometer” yang berarti sepermiliar meter (10 pangkat minus 9). Dus, teknologi ini menumpukan perkembangannya pada produksi mesin-mesin canggih berdimensi sangat kecil.”
Ide nanometer berkembang dari ceramah Richard Feyman (peraih Hadiah Nobel Fisika) pada 1959. Menurut dia, materi dapat disusun atau diubah dengan memanipulasi atom-atom pembentuk materi. Dengan kolaborasi bersama teknologi hayati, ditemukan aplikasi mesin atau robot canggih untuk beragam keperluan, antara lain menghancurkan kolesterol, memerangi virus/bakteri, dll (Koran Tempo, 1/8/04). Semoga nggak puyeng dengan penjelasan ini ya ? Hehehe

Jadi bintang tanpa SMS
Saya tergelitik juga dengan tulisannya Putu Setia di Koran Tempo 1 Agustus 2004 lalu. Beliau menuliskan begini dalam artikelnya setelah “iseng-iseng” survey kecil-kecilan dengan kirim SMS ke ponakannya di Kalimantan : “…saya kirim sandek (pesan pendek, pengganti kata SMS) kepada ponakan saya, pelajar kelas II SMU Tanjung Selor di Kalimantan Timur. “Irma, kamu pernah dengar nama Yudistira Virgus ?” Setelah lama menunggu, sandek balasan muncul, “Gak Om, siapa ya ?” Saya ulangi lagi dengan nama Edbert, Andika, Ardiansyah. Jawaban yang datang juga tidak kenali. Lalu saya tanya bagaimana dengan Tia dan Rindu ? Hanya sebentar menunggu, jawaban sudah muncul, “Tia itu anak Solo yg menang AFI 2, Rindu anak Bdg yg kalah.” Belum sempat membalas muncul lagi suara tit…tit dan ada sandek menyusul. “Om, sumbang pulsa 50 rb ya, mau dukung Sutha anak Bali di AFI 3.” Gubraks !
Dalam artikel yang renyah dengan gaya khasnya, Putu Setia seolah protes dan mempertanyakan kenapa orang cerdas seperti Yudistira dkk nggak dikenal sesama anak SMU lainnya ? Kenapa kebanggaan seperti ini nggak menyebar di sekolah-sekolah ?
Putu Setia, atau siapa pun, termasuk saya sendiri sedih ngeliat teman-teman remaja yang lebih asyik menggeluti dunia hiburan, dan mendukung mereka di ajang tersebut. Sementara seorang anak bernama Mulyono yang dapetin medali perunggu dalam Olimpiade Biologi di Brisbane, jangankan didukung, dikenal aja nggak !
Padahal, Mulyono tinggal di desa dengan fasilitas penunjang belajarnya yang sederhana banget. Kalo belajar malam hari cuma mengandalkan penerangan dari keremangan lampu teplok. Jarak rumah dan sekolahnya 25 kilometer—sehari-hari ditempuh dengan menumpang angkutan pedesaan. Sebelum mencapai jalan raya, Mulyono harus mengayuh sepeda pancal sejauh 6 kilometer dari rumah. Tentu saja, sang Ibu, Mujiati mengaku terharu anaknya bisa jadi jawara di ajang internasional. Karena ia sendiri nggak tahu apa itu biologi, dan apa itu olimpiade. (Koran Tempo, 1/8/04)
Yudistira, Mulyono, Ika Rohmatina, Ardiansyah dkk menuju puncak untuk menjadi bintang nggak perlu sumbangan SMS dari teman-temannya. Selain karena ajang ini nggak diliput secara khusus oleh media massa, juga karena kepandaian nggak diukur dari dukungan SMS, tapi dari keenceran otak yang dibangun dari kerja keras dalam belajar, ulet, semangat, dan juga keprihatinan.
Sobat muda muslim, maaf, bukannya saya bingung, bukannya saya iri (ini kok jadi gaya Mpok Minah di Bajaj Bajuri kalo ngomong sama si Emak ! hehehe), saya nulis begini adalah sebagai bentuk protes kenapa ajang asah otak seperti ini dikalahkan oleh ajang olah vokal, olah gaya tubuh, dan olah raga ?
Pemberitaannya aja seringkali nggak proporsional. Mungkin karena ajang asah otak bikin puyeng yang nonton dan baca kali yee ? Saya sendiri khawatir teman-teman remaja sudah terjebak dalam gaya hidup yang nyantai, bahkan terkesan hura-hura dan hedonis banget. Kalo udah begini, apa jadinya generasi mendatang kalo hanya memproduksi remaja-remaja yang tidak saja lemah iman, tapi juga lemah ilmu. Bahaya banget tuh !

Yang bahagia dan yang merana
Meski sama-sama ngetop, bahkan seharusnya anak-anak yang cerdas ini lebih ngetop lagi ketimbang para remaja yang berlaga di ajang AFI, Indonesian Idol, dan KDI, karena sudah berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional, tapi angin “nasib” nggak selalu berpihak kepada mereka. Bahkan untuk sekadar perhatian sekalipun.
Sebut saja Ni Komang Darmiastini, peraih medali perunggu pada Olimpiade Biologi Internasional di Brisbane, Australia, 11-18 Juli lalu, sebelum berangkat ke Brisbane, pihak sekolahnya, SMA 1 Singaraja, secara resmi sudah melayangkan surat ke DPRD Buleleng guna meminta bantuan. Permohonan itu tak mendapat respon positif. “Tidak ada disposisi bantuan. Yang ada hanya disposisi untuk maklum. Artinya tidak dibantu.” Ujar seorang staf keuangan DPRD Buleleng kepada Koran Tempo (29/7), sambil memperlihatkan risalah surat-surat masuk (Koran Tempo, 1/8/04)
Waduh ! Tapi lihatlah bagaimana Veri yang jawara AFI 1. Doi dieluk-elukan bak pahlawan oleh masyarakat Langkat, daerah kelahirannya. Disambut meriah. Bahkan sang Bupati menghadiahkan 4 hektar tanah untuk Veri. Atau Tia yang jawara AFI 2, ia sampe disambut Walikota Semarang setelah menang di AFI 2. Sebagai jawara di ajang itu, panitia ngasih Veri dan Tia mobil keren.
Sobat muda muslim, sebenarnya perhatian pemerintah terhadap orang-orang cerdas nyaris nggak ada. Sekadar nostalgia, yuk kita kenalan dengan Prof. Dr. Azhar Djaloeis, Ketua Badan Pemeriksa Tenaga Nuklir. Berdasarkan catatan Koran Tempo (1/8/04), tahun 1983, Prof. BJ Habibie meminta peneliti senior di KFA (Nuclear Riset Center) Juelich, Jerman, itu kembali ke tanah air guna menjadi staf ahli menteri di bidang nuklir.
Tapi apa lacur, saat pertama kali pulang ke Indonesia, beliau sempat kecewa. Kenapa? Karena penghargaan terhadap seorang ilmuwan sangat jauh jika dibandingkan dengan di Jerman. Padahal ketika diminta “paksa” balik ke tanah air, di sana beliau sudah punya rumah, kendaraan, dan kehidupan yang bagus. Bahkan sebagai peneliti senior di KFA dan guru besar beliau mendapatkan Aufenthaltsberechtigung (hak tinggal tetap).
Di sini, mantan pengajar Fisika Nuklir, Mekanika Quantum, dan Fisika Modern di Universitas Bonn, Jerman, ini hanya digaji Rp 6 juta sebulan (gaji pokok plus tunjangan jabatan). Kasihan banget deh.
Ini sekadar contoh aja, betapa pemerintah kurang peduli, terhadap mereka yang cerdas. Bandingkan dengan penghargaan pemerintah atau pihak mana pun di negeri ini kepada para penghibur, baik di ajang olah vokal, maupun olahraga. Nggak usah disebutin detil, toh kita sering juga melihat faktanya di lapangan. Kalo ada atlit yang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional, sambutannya luar biasa. Tapi mereka yang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional lewat kecerdasan otaknya, disambut seperlunya saja. Mengenaskan banget. Benar-benar sebuah tragedi.

Penghargaan cara Islam
Sobat muda muslim, bukan rahasia lagi kalo Islam, sangat menghargai orang-orang yang berilmu. Khalifah Umar pernah menghargai para pengajar di sekolah setingkat TK dengan gaji 15 dinar sebulan (1 dinar setara dengan 4,25 gram emas). Di jaman Khalifah Harun al-Rasyid, para penulis berbagai bidang ilmu, akan diberikan emas seberat buku yang ditulisnya. Fantastis ! 
Jadi jangan heran jika Islam di masa kejayaannya memiliki ribuan ilmuwan muslim. Salah satunya ketika Andalusia, Spanyol, menjadi pusat pemerintahan Islam. Bahkan Valencia menjadi kota tujuan utama para pelajar Eropa yang ingin belajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam.
Kamu kenal Al-Khuwarizmi (kalo orang Eropa menyebutnya algoritma) ? Nggak kenal ? Nggak apa-apa, beliau ‘hanyalah' seorang ulama sekaligus pakar di bidang matematika. Buku beliau yang cukup terkenal di bidang matematika adalah “al-Jabr wa al-Muqabalah” .
Kamu pernah dengar nama Al-Khazini ? Nggak pernah dengar ? Nggak apa-apa, beliau ‘hanyalah' seorang ilmuwan Islam yang pakar di bidang fisika dan astronomi. Beliau menulis sebuah buku tentang mekanika, hidrostatik, dan fisika dengan judul “Kitab Mizan al-Hikmah”.
Al-Khuwarizmi dan Al-Khazini adalah dua dari ribuan ilmuwan muslim hasil pembinaan, kepedulian, serta penghargaan dari Khilafah Islamiyah. Sampe-sampe George Sarton dalam “Introduction to the History of Science” menulis, “Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun (813-833 M), perkembangan ilmu-ilmu baru mencapai puncaknya. Pemerintah mendirikan sebuah sekolah reguler untuk penerjemahan di kota Baghdad. Sekolah itu dilengkapi dengan perpustakaan. Salah satu penerjemah yang terkemuka adalah Hunain ibn Ishaq (809-877 M), seorang filsuf berbakat sekaligus pakar fisika yang terpelajar.”
Tapi sayang banget, orang-orang berprestasi dengan keahlian di bidang sains dan teknologi, kurang pendapat perhatian dan penghargaan yang semestinya di negeri ini. Di negara maju saat ini, orang-orang cerdas ini sangat dihargai, karena mereka tahu betul, sangat boleh jadi satu orang berilmu lebih berharga ketimbang seribu orang bodoh.
Islam pun, sejak dulu sudah sangat menghargai keahlian orang-orang seperti ini, bahkan sejak awal menciptakan mereka. Tapi sayangnya, itu terjadi ratusan tahun lalu saat Islam berkuasa di dunia ini. Jadi, tugas kita saat ini, mengembalikan kejayaan Islam di muka bumi ini dengan mengkampanyekan penting dan wajibnya menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Yang tidak saja akan menciptakan dan menghargai orang-orang cerdas di bidang sains dan teknologi, tapi sekaligus menghancurkan segala kebatilan yang ada di dunia ini sambil menyebarkan cahaya Islam. Salam perjuangan dan kemenangan Islam ! [solihin]
Read »

INDONESIA IBARAT KAPAL TUA

Indonesia Ibarat Kapal Tua
Dengan penumpang berbagai rupa
Ada dari Sumatera, Jawa Madura, Sumbawa hingga Papua
Bersatu dalam nusantara

Enam kali sudah kita ganti nahkoda
Tapi masih jauh dari kata sejahtera

Nahkoda pertama
Sang proklamator bersama Hatta
Membangun dengan semangat pancasila
Dan terkenal dikalangan wanita
Ia pernah berkata mampu guncangkan dunia dengan 10 pemuda
Tapi itu kurang satu utk tim sepakbola

Nahkoda kedua
Tiga puluh dua tahun berkuasa
Datang dengan program bernama Pelita
Bapak pembangunan bagi mereka
Tapi bagi saya (di Timur sana) tidak ada bedanya.
Tidak ada bedanya.

Nahkoda ketiga
Sang wakil yang naik tahta
Mewarisi pecah belahnya masa orba
Belum sempat menjelajahi samudera
tapi sudah terhenti ditahun pertama
Dibanggakan di Eropa, dipermainkan di Indonesia
Jerman dapat ilmunya, kita dapat apa?
Antrian panjang nonton film-nya

Nahkoda selanjutnya
Sang kiai dengan hati terbuka
Ia terhenti dalam sidang istimewa
Ketika tokoh-tokoh reformasi berebut istana

Nahkoda kelima, nahkoda pertama seorang wanita
Dari tangan ibunya bendera pusaka tercipta

Nahkoda keenam bagian A
Dua pemilu mengungguli pemilihan suara
Dua pemilu disumpah atas nama garuda
Tapi itu hanya awal cerita
Cerita panjangnya terpampang di banyak media
Lapindo, Munir, Century, Hambalang, kami menolak lupa

Teman-teman, kini 2014 telah tiba
Saatnya kita memilih nahkoda
Pastikan dia yang mengerti Bhinneka Tunggal Ika
Bukan boneka milik Amerika.
Read »

Akhir Kisah, ...

Wahai akhir kisah, masih jauh kah kau?
Masih banyakkah waktu utk mencapaimu?

Aku tau,
kau tak mungkin mendekat pada ku.
Aku yg harus selalu menperpendek jarak dengan mu.
Walau harus berlari, berjalan, merangkak, ataupun harus menyeret badan menuju ke tempat mu.
Dengan segera, secepatnya, tanpa ada waktu untuk berlama-lama

Aku tau bahwa kau selalu akan menunggu
Menunggu aku sampai disana
Apapun keadaanku, bagaimana pun caraku.
tapi,
Aku ingin sampai disana dengan membawa sesuatu
Sesuatu yang menciptakan rasa bahagia
Bahagia untuk orang-orang disekelilingku.

Walau sakit, perih, susah, ataupun sulit yang terasa
Aku akan berusaha untuk itu,
tapi bagaimana caranya???
lalu bagaimana melakukannya???

mungkinkah aku mampu???
dengan diri ku yang seperti ini
kurasa tidak akan bisa
kurasa tidak mungkin menjadi nyata

lalu kalau begitu,
apa guna aku memulai perjalanan ini
lalu menjalaninya diwaktu yang panjang ini
Read »

Indonesia, Negeri Ijazah Indonesia, Negeri Ijazah

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.

Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.

”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).

Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya.

Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.

Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.

Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.

”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.

Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.

Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.

Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.

”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.

Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.

Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.

”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”

Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.

Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.

”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.

Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.

”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.

Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.

Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.

”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.

Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.

”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.

Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.

”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.

Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.

”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.

Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.

”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya. (*/c9/ari)
Read »

Ads

Copyright © boim

Designed by